Senin, 21 Juni 2021

Apakah Ajaran Tasawuf Tidak Sesuai Dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits dan Dipengaruhi Unsur di Luar Islam ?

 

Belajar tasawuf yang sangat penting bagi umat Islam bukan pekerjaan yang mudah dilakukan. Dari segi asal-muasal kata saja, sering terjadi pro dan kontra. Belum lagi aplikasi praktisnya untuk menjalani kehidupan ala tasawuf itu sendiri. Ilmu tasawuf bukan hanya teori, melainkan juga praktik. Berbagai pendapat yang sering membingungkan adalah apakah tasawuf itu sesat (mistik dari luar Islam) atau sebuah jalan yang hak sebagai ajaran Islam. Tulisan ini mengajak pembaca untuk bersama-sama meyakinkan bahwa ajaran tasawuf itu murni dari ajaran Islam bukan pengaruh dari luar Islam. Pemikiran dan praktek tasawuf yang dihasilkan dari pemahaman terhadap al-Qur’an dan al-Hadits berbeda dengan pemikiran bebas yang tidak bersumber dari keduanya.

Dalam mempelajari ilmu tasawuf kita menemukan banyak teori yang berkaitan dengan asal usul ajaran tasawuf. Di antara teori yang satu dengan teori yang lain telah menimbulkan pro dan kontra, sehingga menimbulkan adanya keraguan dan kecaman terutama bagi kalangan yang anti terhadap praktek ajaran tasawuf. Para tokoh muslim (yang simpati dan menekuni ajaran tasawuf) mengatakan, bahwa asal usul tasawuf berasal murni dari ajaran Islam, sementara tokoh-tokoh di luar Islam berpendapat bahwa ajaran tasawuf bukan murni dari ajaran Islam melainkan pengaruh dari ajaran dan pemikiran di luar Islam. Terlepas dari berbagai macam teori yang ada, tulisan ini mencoba merangkum berbagai pendapat yang ditulis oleh pengkaji tasawuf dan selanjutnya mencoba memberikan suatu kesimpulan, apakah asal usul tasawuf murni bersumber dari ajaran Islam atau bukan dari ajaran Islam? Tulisan berikut ini terlebih dahulu mengemukakan asal kata dari “tasawuf” berikut pengertiannya, kemudian memaparkan teori-teori asal usul tasawuf yang berasal dari unsur Islam dan unsur di luar Islam, dan selanjutnya sanggahan terhadap teori oreintalis tentang asal usul tasawuf.

Asal usul Kata Tasawuf. 

1. Menurut bahasa 

Para ulama tasawuf berbeda pendapat tentang asal usul penggunaan kata tasawuf. Dari berbagai sumber rujukan buku-buku tasawuf, paling tidak ada lima pendapat tentang asal kata dari tasawuf. Pertama, kata tasawuf dinisbahkan kepada perkataan ahlshuffah, yaitu nama yang diberikan kepada sebagian fakir miskin di kalangan orang Islam pada masa awal Islam. Mereka adalah diantara orang-orang yang tidak punya rumah, maka menempati gubuk yang telah dibangun Rasulullah di luar masjid di Madinah. Ahl al-Shuffah adalah sebuah komunitas yang memiliki ciri yang menyibukkan diri dengan kegiatan ibadah. Mereka meninggalkan kehidupan dunia dan memilih pola hidup zuhud. Mereka tinggal di masjid Nabi dan tidur di atas bangku batu dengan memakai pelana (sofa), mereka miskin tetapi berhati mulia. Para sahabat nabi hasil produk shuffah ini antara lain Abu Darda’, Abu Dzar al Ghifari dan Abu Hurairah3 . Kedua, ada pendapat yang mengatakan tasawuf berasal dari kata shuf, yang berarti bulu domba. Berasal dari kata shuf karena orang-orang ahli ibadah dan zahid pada masa dahulu menggunakan pakaian sederhana terbuat dari bulu domba. Dalam sejarah tasawuf banyak kita dapati cerita bahwa ketika seseorang ingin memasuki jalan kedekatan pada Allah mereka meninggalkan pakaian mewah yang biasa dipakainya dan diganti dengan kain wol kasar yang ditenun sederhana. Tradisi pakaian sederhana dan compang camping ini dengan tujuan agar para ahli ibadah tidak timbul rasa riya’, ujub atau sombong4 . Ketiga, tasawuf berasal dari kata shofi, yang berari orang suci atau orang-orang yang mensucikan dirinya dari hal-hal yang bersifat keduniaan5 . Mereka memiliki ciri-ciri khusus dalam aktifitas dan ibadah mereka atas dasar kesucian hati dan untuk pembersihan jiwa dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Mereka adalah orang yang selalu memelihara dirinya dari berbuat dosa dan maksiat. Pendapat yang keempat mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata shaf, yaitu menggambarkan orang-orang yang selalu berada di barisan depan dalam beribadah kepada Allah dan dalam melaksanakan kebajikan6 . Sementara pendapat yang lain mengatakan bahwa tasawuf bukan berasal dari bahasa Arab melainkan bahasa Yunani, yaitu sophia, yang artinya hikmah atau filsafat7 . Menisbahkandengan kata sophia karena jalan yang ditempuh oleh para ahli ibadah memiliki kesamaan dengan cara yang ditempuh oleh para filosof. Mereka sama-sama mencari kebenaran yang berawal dari keraguan dan ketidakpuasan jiwa. Contoh ini pernah dialami oleh Iman al Ghazali dalam mengarungi dunia tasawuf. Masih banyak pendapat lain yang menghubungkan kata tasawuf dengan perkataan-perkataan lain yang dapat dirujuk dalam buku-buku tasawuf. Yang jelas dari segi bahasa terlepas dari berbagai pendapat yang ada, dapat dipahami bahwa tasawuf adalah sikap mental yang selalu memelihara kesucian diri, beribadah, hidup sederhana, rela berkorban untuk kebaikan dan selalu bijaksana serta mengutamakan kebajikan.

 2. Menurut Istilah 

Selanjutnya tasawuf dari aspek terminologis (istilah) juga didefinisikan secara beragam, dan dari berbagai sudut pandang. Hal ini dikarenakan bebeda cara memandang aktifitas para kaum sufi. Ma’ruf al Karkhi mendefinisikan tasawuf adalah “mengambil hakikat dan meninggalkan yang ada di tangan mahkluk”8 . Abu Bakar Al Kattani mengatakan tasawuf adalah” budi pekerti. Barangsiapa yang memberikan bekal budi pekerti atasmu, berarti ia memberikan bekal bagimu atas dirimu dalam tasawuf”9 . Selanjutnya Muhammad Amin Kurdi mendefinisikan tasawuf adalah “suatu yang dengannya diketahui hal ihwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari yang tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji, cara melaksanakan suluk dan perjalanan menuju keridhaan Allah dan meninggalkan larangannya”10 . Dari kajian sudut bahasa maupun istilah sebagaimana dijelaskan di atas, menurut Nicholson, bahwa masalah yang berkaitandengan sufisme adalah sesuatu yang tidak dapat didefinisikan secara jelas dan terang, bahkan semakin banyak didefinisikan maka semakin jauh dari makna dan tujuan11. Hal ini biasa terjadi karena hasil pengalaman sufistik tergantung pada pengamalan masing-masing tokoh sufi. Namun, menurut Abuddin Nata, bahwa walaupun setaip para tokoh sufi berbeda dalam merumuskan arti tasawuf tapi pada intinya adalah sama, bahwa tasawuf adalah upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan dirinya dari pengaruh kehidupan dunia, sehingga tercermin akhlak yang mulia dan dekat dengan Allah. Atau dengan kata lain tasawuf adalah bidang kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan mental rohaniah agar selalu dekat dan bersama Allah12. Dari kesimpulan ini maka kemudian melahirkan beberapa teori tentang asal usul ajaran tasawuf, apakah ajaran-ajaran tentang pembersihan jiwa itu murni dari Islam atau justru pengaruh unsur lain di luar Islam. Maka untuk memaknai tujuan dan hakekat tasawuf dalam Islam, kita harus mengkaji pendapat-pendapat lain tentang teori asal usul ajaran tasawuf, sebab dari kalangan orientalis Barat masih membuat kesimpulan bahwa ajaran-ajaran tasawuf dalam Islam, bukan hasil ajaran murni dari ajaran Islam, melainkan pengaruh dari ajaran luar Islam.

Teori Asal Usul Ajaran 

Dari beberap buku (kajian) tentang asal usul tasawuf, biasanya kita menjumpai pendapat atau teori-teori yang berkaitan dengan sumber-sumber yang membentuk tasawuf. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa ada dua teori yang berpengaruh dalam membentuk tasawuf, yaitu teori yang berasal dari ajaran atau unsur Islam, dan teori yang berasal dari ajaran atau unsur lain di luar Islam. Para orientalis Barat mengatakan bahwa tasawuf bukan murni dari ajaran Islam, sementara para tokoh sufi mengatakan bahwa tasawuf merupakan inti ajaran dari Islam. 

1.  Unsur Islam 

Para tokoh sufi dan juga termasuk dari kalangan cendikian muslim memberikan pendapat bahwa sumber utama ajaran tasawaf adalah bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits. Al-Qur’an adalah kitab yang di dalam ditemukan sejumlah ayat yang berbicara tentang inti ajaran tasawuf. Ajaran-ajaran tentang khauf, raja’, taubat, zuhud, tawakal,syukur, shabar, ridha, fana, cinta, rindu, ikhlas, ketenangan dan sebagainya secara jelas diterangkan dalam al-Qur’an13. Antara lain tentang mahabbah (cinta) terdapat dalam surat al-Maidah ayat 54, tentang taubat terdapat dalam surat al-Tahrim ayat 8, tentang tawakal terdapat dalam surat at-Tholaq ayat 3, tentang syukur terdapat dalam surat Ibrahim ayat 7, tentang shabar terdapat dalam surat al-Mukmin ayat 55, tentang ridha terdapat dalam surat alMaidah ayat 119, dan sebagainya14 . Sejalan dengan apa yang dikatakan dalam al-Qur’an, bahwa al-Hadits juga banyak berbicara tentang kehidupan rohaniah sebagaimana yang ditekuni oleh kaum sufi setelah Rasulullah. Dua hadits populer yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim : “Sembahlah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, maka apabila engkau tidak melihat-Nya, maka Ia pasti melihatmu” dan juga sebuah hadits yang mengatakan: “Siapa yang kenal pada dirinya, niscaya kenal dengan Tuhan-Nya” adalah menjadi landasan yang kuat bahwa ajaran-ajaran tasawuf tentang masalah rohaniah bersumber dari ajaran Islam. Ayat-ayat dan hadits di atas hanya sebagian dari hal yang berkaiatan dengan ajaran tasawuf. Dalam hal ini Muhammad Abdullah asy-Syarqowi mengatakan: “awal mula tasawuf ditemukan semangatnya dalam al-Qur’an dan juga ditemukan dalam sabda dan kehidupan Nabi SAW, baik sebelum maupun sesudah diutus menjadi Nabi. Begitu juga awal mula tasawuf juga dapat ditemukan pada masa sahabat Nabi beserta para generasi sesudahnya15. Selanjutnya, Abu Nashr As-Siraj al-Thusi mengatakan, bahwa ajaran tasawuf pada dasarnya digali dari al-Qur’an dan as-Sunah, karena amalan para sahabat, menurutnya tentu saja tidak keluar dari ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah. Demikian pula menurut Abu Nashr, bahwa para sufi dengan teori-teori mereka tentang akhlak pertama-pertama sekali mendasarkan pandangan mereka kepada al-Qur’an dan as-Sunnah (Yasir Nasution, 2007: 18). Selanjutnya di dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW juga terdapat banyak petunjuk yang menggambarkan dirinya sebagai seorang sufi. Nabi Muhammad telah melakukan pengasingan diri ke Gua Hira menjelang datangnya wahyu. Dia menjauhi pola hidup kebendaan di mana waktu itu orang Arab menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta. Dikalangan para sahabat pun juga kemudian mengikuti pola hidup seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Abu bakar Ash-Shiddiq misalnya berkata: “Aku mendapatkan kemuliaan dalam ketakwaan, kefanaan dalam keagungan dan rendah hati”. Demikian pula sahabat-sahabat beliau lainnya seperti Umar bin Khottob, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar al-Ghiffari, Bilal, Salman al-Farisyi dan Huzaifah alYamani16 . Dari berbagai pendapat di atas dapat dipahami, bahwa teori asal usul tasawuf bersumber dari ajaran Islam. Semua praktek dalam kehidupan para tokoh-tokoh sufi dalam membersihkan jiwa mereka untuk mendekatkan diri pada Allah mempunyai dasar-dasar yang kuat baik dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Teori-teori mereka tentang tahapan-tahapan menuju Allah (maqomat) seperti taubat, syukur, shabar, tawakal, ridha, takwa, zuhud, wara’ dan ikhlas, atau pengamalan batin yang mereka alami (ahwal) seperti cinta, rindu, intim, raja dan khauf, kesemuanya itu bersumber dari ajaran Islam.

Nashr As-Siraj al-Thusi mengatakan, bahwa ajaran tasawuf pada dasarnya digali dari al-Qur’an dan as-Sunah, karena amalan para sahabat, menurutnya tentu saja tidak keluar dari ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah. Demikian pula menurut Abu Nashr, bahwa para sufi dengan teori-teori mereka tentang akhlak pertama-pertama sekali mendasarkan pandangan mereka kepada al-Qur’an dan as-Sunnah (Yasir Nasution, 2007: 18). Selanjutnya di dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW juga terdapat banyak petunjuk yang menggambarkan dirinya sebagai seorang sufi. Nabi Muhammad telah melakukan pengasingan diri ke Gua Hira menjelang datangnya wahyu. Dia menjauhi pola hidup kebendaan di mana waktu itu orang Arab menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta. Dikalangan para sahabat pun juga kemudian mengikuti pola hidup seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Abu bakar Ash-Shiddiq misalnya berkata: “Aku mendapatkan kemuliaan dalam ketakwaan, kefanaan dalam keagungan dan rendah hati”. Demikian pula sahabat-sahabat beliau lainnya seperti Umar bin Khottob, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar al-Ghiffari, Bilal, Salman al-Farisyi dan Huzaifah alYamani16 . 

Dari berbagai pendapat di atas dapat dipahami, bahwa teori asal usul tasawuf bersumber dari ajaran Islam. Semua praktek dalam kehidupan para tokoh-tokoh sufi dalam membersihkan jiwa mereka untuk mendekatkan diri pada Allah mempunyai dasar-dasar yang kuat baik dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah. Teori-teori mereka tentang tahapan-tahapan menuju Allah (maqomat) seperti taubat, syukur, shabar, tawakal, ridha, takwa, zuhud, wara’ dan ikhlas, atau pengamalan batin yang mereka alami (ahwal) seperti cinta, rindu, intim, raja dan khauf, kesemuanya itu bersumber dari ajaran Islam. 

2. Unsur di luar Islam 

Menurut teori Ignas Goldziher, bahwa asal usul tasawuf terutama yang berkaitan dengan ajaran-ajaran yang diajarkan dalam tasawuf merupakan pengaruh dari unsur-unsur di luar Islam. Goldziher mengatakan, bahwa tasawuf sebagai salah satu warisan ajaran dari berbagai agama dan kepercayaan yang mendahului dan bersentuhan dengan Islam. Bahkan berpendapat bahwa beberapa ide al-Qur’an juga merupakan hasil pengolahan “ideology” agama dan kepercayaan lain17. Unsur agama dan kepercayaan lain selain Islam itu adalah unsur pengaruh dari agama Nashrani, Hindu-Budha, Yunani dan Persia. Pengaruh dari unsur agama Nashrani terlihat pada ajaran tasawuf yang mementingkan kehidupan zuhud dan fakir. Menurut Ignas Goldziher dan juga para Orientalis lainnya mengatakan bahwa kehidupan zuhud dalam ajaran tasawuf adalah pengaruh dari rahibrahib Kristen18. Begitu pula pola kehidupan fakir yang dilakukan oleh para sufi adalah merupakan salah satu ajaran yang terdapat dalam Injil. Dalam agama Nashrani diyakini bahwa Isa adalah orang fakir. Di dalam Injil dikatakan bahwa Isa berkata: “Beruntunglah kamu orangorang miskin, karena bagi kamulah kerajaan Alah. Beruntunglah kamu orang-orang yang lapar, karena kamu akan kenyang”19 . Selain Ignas Goldziher, pendapat yang serupa juga dilontarkan Reynold Nicholson. Menurut Nicholson, “Banyak teks Injil dan ungkapan al-Masih (Isa) ternukil dalam biografi para sufi angkatan pertama. Bahkan, sering kali muncul biarawan Kristen yang menjadi guru dan menasehati kepada asketis Muslim. Dan baju dari bulu domba itu juga berasal dari umat Kristen”20 . Di samping pengaruh dari ajaran Nashrani, Goldziher juga mengatakan, bahwa ajaran tasawuf banyak dipengaruhi oleh ajaran Budha. Dia mengatakan bahwa ada hubungan persamaan antara tokoh Budha Sidharta Gautama dengan tokoh sufi Ibrahim bin Adam yang meninggalkan kemewahan sebagai putra mahkota. Bahkan, Goldziher mengatakan para sufi belajar menggunakan tasbih sebagaimana yang digunakan oleh para pendeta Budha, begitu juga budaya etis, asketis serta abstraksi intelektual adalah pinajaman dari Budhisme21. Ada kesamaan paham fana dalam tasawuf dengan nirwana dalam agama Budha. Begitu juga ada kesamaan cara ibadah dan mujahadah dalam ajaran tasawuf dengan ajaran Hindu. Menurut Harun Nasution, bahwa paham fana hampir sama dengan nirwana dalam agama Budha, dimana agama Budha mengajarkan pemeluknya untuk meninggalkan dunia dan memasuki hidup kontemplatif. Demikian dalam ajaran Hindu ada perintah untuk meninggalkan dunia untuk mencapai persatuan Atman dan Brahman22 . Untuk selanjutnya ada juga teori yang mengatakan bahwa tasawuf juga dipengaruhi oleh unsur Yunani. Menurut Abuddin Nata, bahwa metode berfikir filsafat Yunani telah ikut mempengaruhi pola berfikir umat Islam yang ingin berhubungan dengan Tuhan. Hal ini terlihat dari pemikiran al-Farabi, al-Kindi, Ibn Sina tentang filsafat jiwa. Demikian juga uraian mengenai ajaran tasawuf yang dikemukakan oleh Abu Yazid, al-Hallaj, Ibn Arabi, Suhrawardi dan lain-lain. Menurut Abuddin Nata, ungkapan Neo Platonis :”Kenallah dirimu dengan dirimu” telah diambil sebagai rujukan oleh kaum sufi memperluas makna hadits yang mengatakan: “Siapa yang mengenal dirinya, niscaya dia mengenal Tuhannya”. Dari sinilah munculnya teori Hulul, Wihdah Asy-Syuhud dan Wihdah al-Wujud23 . Filsafat Emansi Platonis yang mengatakan bahwa wujud alam raya ini memancar dari zat Tuhan Yang Maha Esa. Roh berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Tetapi dengan masuknya ke alam materi, roh menjadi kotor, maka dari itu roh harus dibersihkan. Penyucian roh itu adalah dengan meninggalkan dunia dan mendekati diri dengan Tuhan sedekat-dekatnya. Ajaran inilah yang kemudian mempunyai pengaruh terhadap munculnya kaum Zuhud dan sufi dalam Islam.

Kembali pada teori Goldziher, bahwa tasawuf dipengaruhi oleh kepercayaan dan agama di luar ajaran Islam, maka unsur kepercayaan dari Persia dengan sendirimya juga berarti telah ikut serta mempengaruhi tasawuf, karena hubungan politik, pemikiran, social dan sastra antara Arab dan Persia telah terjalin sejak lama. Namun belum ada bukti yang kuat bahwa kehidupan rohani Persia masuk ke tanah Arab. Tetapi memang ada sedikit kesamaan antara istilah zuhud di Arab dengan zuhud menurut agama Manu dan Mazdaq di Persia. Begitu pula konsep ajaran hakekat Muhammad menyerupai paham Harmuz (Tuhan Kebaikan) dalam agama Zarathustra.

Sanggahan Terhadap Teori Orientalis. 

Teori Goldziher dan Nicholson sebagaimana telah diuraikan di atas, dilihat dari berbagai aspek mengandung banyak kelemahan. Bila mereka mengakui bahwa tasawuf tidak murni dari ajaran Islam, ini dikarenakan titik fokus kesimpulan mereka hanya mengkaji tasawuf dari ajaran-ajaran atau prilaku kehidupan para sufi. Harus di akui, bahwa memang ada pola kesamaan kehidupan dan pemikiran para tokoh sufi dengan ajaran-ajaran di luar Islam, tetapi adanya kesamaan ini bukan berarti mereka mengambil ajaran di luar Islam, sebab al-Qur’an dan al-Hadits adalah sumber utama yang sarat dengan ajaran-ajaran tasawuf. Nampaknya Goldziher dan Nicholson tidak bersungguh-sungguh mengkaji kedua sumber tersebut. Titik fokus mereka tertuju pada pemikiran dan pola hidup para sufi, bukan pada ajaran formal yang menjadi landasan tasawuf, dan mereka pula telah melupakan untuk mengkaji kehidupan Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya yang menjadi anutan dari para tokoh sufi. Kelemahan lain dari teori mereka, bahwa mereka mengindentikkan ajaran Islam sebagaimana ajaran non Islam yang dibangun dari hasil produk pemikiran. Mereka lupa bahwa Islam adalah agama wahyu yang bukan produk pemikiran manusia. Semua ajaran yang terkadung di dalamnya bersifat universal dan terjamin kebenarannya serta tidak akan mengalami perubahan. Kepercayaan dan agama Nashrani, Budha, Hindu, dan budaya pemikiran Yunani dan Persia adalah produk pemikiran manusia yang terlepas dari ajaran wahyu. Adanya kesamaan konsep zuhud dan fakir dalam ajaran Nashrani dengan prilaku para sufi yang hidup zuhud dan memfakirkan diri bukan berarti para sufi mengambil ajaran Nashrani untuk menjadi pegangan mereka, tetapi hanyalah sekedar adanya kesamaan dari aspek ajaran antara Nashrani dan Islam saja. Hidup zuhud dan fakir sesungguhnya telah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya sebelum para tokoh sufi muncul ke permukaan. Rasulullah SAW telah mempraktekkan hidup zuhud, qana’ah, takwa, mahabbah, syukur, taubat, ridha dan tawakkal dalam kehidupannya sehari-hari, begitu pula para sahabatnya.

Kelemahan lain dari teori Goldziher dan Nicholson, adalah terlalu gegabah menyimpulkan bahwa ajaran tasawuf bersumber dari ajaran Hindu-Budha. Konsep fana dan praktek kontemplasi dalam ajaran Hindu-Budha sama sekali tidak ada pengaruhnya dengan praktek ajaran tasawuf oleh para tokoh sufi. Bila dikaji secara historis tidak ada data yang menunjukkan bahwa agama Hindu-Budha berkembang di tanah Arab. Menurut Qomar Kailani, adalah pendapat yang ekstrim sekali kalau mengatakan bahwa ajaran tasawuf berasal dari Hindu-Budha. Ini berarti pada zaman Nabi Muhammad SAW telah berkembang ajaran Hindu-Budha itu di Makkah dan Madinah, padahal sepanjang sejarah belum ada kesimpulan seperti itu. Demikian pula halnya dengan pengaruh dari Persia, juga belum ditemukan argumentasi yang kuat yang menyatakan bahwa kehidupan rohani Persia telah masuk ke tanah Arab, tetapi yang terjadi justru sebaliknya, bahwa kehidupan rohani Arab yang masuk ke tanah Persia27. Sama juga hal nya dengan pengaruh dari ajaran Neo Platonis Yunani, tidak ada data yang dapat dipercaya bahwa prilaku kehidupan tasawuf Nabi Muhammad SAW dan tokoh sufi awal Islam diwarnai ajaran pemikiran Yunani. Pengaruh Neo Platonis berkembang jauh setelah ajaran tasawuf dipraktekkan.

Penutup 

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kesimpangsiuran teori asal mula tasawuf sesungguhnya berawal dari keikutsertaan kaum orientalis dalam memahami sumber ajaran Islam. Mereka terlalu cepat menyimpulkan tanpa mengkaji dahulu ajaran-ajaran tasawuf dalam al-Qur’an dan al-Hadist. Obyek kajian mereka tertuju pada ide dan praktek kehidupan kaum sufi, bukan pada konsep ajaran yang dipegang oleh kaum sufi yang telah mempunyai landasan normatif di dalam al-Qur’an. Jika mereka mencoba memahami alQur’an dan sejarah asal mula praktek tasawuf, maka teori mereka yang mengatakan bahwa ajaran tasawuf dipengaruhi unsur di luar Islam dengan sendirinya gugur dan tertolak secara akademis. Teori yang dapat diterima adalah teori yang mengatakan bahwa ajaran tasawuf murni dari ajaran Islam bukan pengaruh dari luar Islam. Pemikiran dan praktek tasawuf yang dihasilkan dari pemahaman terhadap al-Qur’an dan al-Hadits berbeda dengan pemikiran bebas yang tidak bersumber dari keduanya. Pemikiran yang tidak bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits bersifat liberal, sehingga tidak dapat dijadikan sebagai rujukan untuk membuat suatu sebuah grand teori yang terpercaya dalam mengkaji asal usul ajaran tasawuf dalam Islam.


Sumber :https://media.neliti.com/media/publications/76410-ID-none.pdf

Abul “Alaa “Afify, Fi al Tashawwuf al Islam wa Tarikhikhi, Iskandariyah:

Lajnah al Ta’lif wa al-Tarjamah wa al Nasyr, tt.

Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada,

2009.

Abul al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani, Madkhal ala al Tashawwuf alIslam, terj. Ahmad Rofi’ Ustman, “Sufi Dari Zaman ke

Zaman”, Bandung: Pustaka:1985.

Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulum ad-Din, Semarang: Maktabah Usaha Keluarga,tt.

Alwan Khoiri,et al, Akhlak/Tasawuf, Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga, 2005.

Amin al-Kurdi, Tanwir al-Qulub fi Mu’amalah ‘Alam al-Ghuyub,

Surabaya: Bungkul Indah, tt.

AS-Suhrawardi, Awarif al_Ma,rif Kamisy Ihya’ ‘Ulum al-Din, Singapura:

Mar’I,tt.

Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam Jakarta: Bulan

Bintang, 1973.

Ignas Goldziher, Pengantar Teologi dan Hukum Islam Jakarta: INIS

Jakarta, 1991.

Moh. Ghallab, al-Tasawuf al-Muqarin Kairo: Maktabah al-Nahdah,

t.t.

Muhammad Abdullah Asy-Syarqawi, Sufisme & Akal, terj. Halid alKaf Bandung: Pustaka Hidayah, 2003.

Muhammad Sholikhin, Tradisi Sufi dari Nabi, Cakrawala: Yogyakarta,

2009.

Reynold Nicholson, The Mystics of Islam, terj. A. Nashir Budiman,

“Tasawuf Menguak Cinta Ilahi” Jakarta: Raja Grafindo, 1993.

Reynold Nicholson, Jalaluddin Rumi, Ajaran dan Pengalaman Sufi

Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993.

Yasir Nasution, Cakrawala Tasawuf Jakarta: Putra Grafika, 2007.

Minggu, 06 Juni 2021

Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah (Pangersa Abah Anom)

 

Mursyid Tarekat Naqsyabandiyyah Al-Haqqaniy Syeikh Nazim Adil Al-Haqqani dan 
Syeikh Muhammad Hisyam Al-Kabbaniy bersilaturrahim Pada Mursyid 
TQN Syeikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin
Pangersa Abah Anom di Suryalaya Tasikmalaya, Beliau menjelaskan tentang tata cara dzikir tarekat qadiriyah naqsabandiyah yang benar, untuk bisa secara cepat sampai kepada tujuannya yaitu Alloh dan Ridlo-Nya. Berikut ini adalah wasiat Beliau (yang masih sempat kami ingat) saat Beliau memberikan talqin Dzikir jahar dengan lafal dzikir LAAILAAHA-ILLALLOH.;

“...Syetan benar-benar tak akan berhenti menggoda kita dari arah muka, belakang, serta dari arah kanan dan kiri kita supaya mereka mendapati kita sebagai hamba yang tidak bisa bersyukur. ‘Tsumma la-atiyannahum min aidiihim wamin kholfihim wa ‘an aimaanihim wa ‘an syamaa-ilihim walaa tajidu aktsarahum syaakirien’. Karena itu, tutuplah godaan syetan yang akan masuk melalui pintu depan dan belakang kita dengan membaca Laa (ditari dari bawah pusar ke atas sampai ke ubun-ubun dengan menyentuh tiga lathifah; lathifah akhfa, lathifah anfsu, dan lathifah qolab), tutuplah pintu yang kanan pula dengan membaca ilaaha (ditarik dari atas ke bawah ke arah dada sebelah kanan dengan menyentuh dua lathifah; althifah ruh dan lathifah akhfa), dan tutuplah pintu yang kiri pula dengan membaca illalloh sekuat-kuatnya (hujamkan ke arah dada sebelah kiri menyentuh dua lathifah; lathifah sirri dan lathifah qolbi). Dengan laailaaha hancurkan seluruh akhlak (sifat) tercela dan pikiran-pikiran serta perasaan yang kotor, kemudian isilah dengan akhlak (sifat-sifat terpuji) dari Alloh dengan bacaan yang kuat illalloh. Dengan mata tertutup, mari sama-sama kita praktekkan...”

Dzikir khofiy ALLOHU...ALLOH. Kaitannya dengan hal ini masih akan kami nuqilkan juga petunjuk dari Waliy Mursyid Abah Anom saat Beliau mantalqin kami (kali yang pertama), yaitu talqin dzikir khofinya;

“Katupkan kedua bibirmu, pejamkan kedua matamu, tekuklah lidahmu ke langit-langit (seperti lidah orang yang telah mati), tundukkanlah kepalamu ke arah qalbu (kira-kira dua jari di bawah puting susu sebelah kiri), tariklah nafas dan tahanlah di bawah pusar, tenangkanlah seluruh tubuhmu, dan kembalikanlah semuanya kepada Alloh, pasrahkanlah semuanya kepada Alloh, hilangkanlah kata-kata ‘ku’;dari-ku, milik-ku, oleh-ku, karena-ku, dan ‘ku’ ‘ku’ yang lain, kembalikanlah semuanya kepada Alloh sambil berdzikir khofiy dalam hati sekuat-kuatnya terus menerus.”

Dari kedua jenis amalan dzikir di atas, kita akan mendapati di dalam masing-masingnya ada “sikap lahir” dan “sikap bathin”.

Sikap lahir dari dzikir jahar laa-laaha illalloh adalah antara lain;
  • Pejamkan kedua mata.
  • Menggerakkan kepada (dari pusar) ke atas ke dada kanan dan ke dada kiri. Dengan cara ini tubuh kita akan sulit diajak ngantuk, pikiranpun sulit pula untuk diajak melamun (dibanding yang tidak pakai gerakan kepala).
  • Mengeraskan suara dengan pukulan yang tepat dan kuat.
  • Sebelumnya ada wudlu, ada parfum, ada pakaian yang suci, dan lain-lain [baca: adab dzikir].

Adapun sikap bathin dalam dzikir jahar laailaaha-illalloh adalah antara lain;
  • Membayangkan diri sedang berkelahi atau sedang menutup pintu-pintu dari pengaruh syetan dengan ‘pedang’ laailaaha-illalloh.
  • Membayangkan diri sedang meninggalkan kampung dunia yang semu dengan laailaha dan membetahkan diri tinggal di kampung yang sejati (akhirat) dengan illalloh.
  • Membayangkan diri sedang membersihkan pikiran dan sifat-sifat (akhlak) yang kotor dengan laailaaha kemudian mengisikan ke dalam qalbu kita sifat-sifat terpuji yang bersumber dari Alloh dengan illalloh.
  • Membayangkan diri sedang memerangi (mensirnakan) segala sesuatu dengan laailaaha dan menetapkan (menyisakan) dalam qalbu semata ‘Wujud Alloh’ sebagai satu-satunya tujuan pencarian dengan illalloh.
  • Sebelumnya, ada juga adab bathin semisal berniat dzikir hanya mencari Alloh dan Ridlo-Nya, menghadirkan sosok Mursyid yang akan membantunya menyirnakan selain Alloh dan menghantarkannya menuju Alloh, dan lai-lain.

Dzikir jahar (dalam tata cara berdzikir tarekat qodiriyah wan naqsyabandiyyah) baik lahir maupun bathin demi kecepatannya menuju Alloh. Paparan tersebut di atas adalah sudah merupakan ‘inti’-nya.

Tataran tingkat dasar dari target dzikir jahar laailaaha-illalloh adalah kesadaran bahwa tiada tuhan selain Alloh (LAA ILAAHA ILLALLOH). Tataran tingkat menengah dari target dzikir jahar laailaaha-ilalloh adalah kesadaran bahwa tiada yang dituju dan dicinta selain Alloh (LAA MAQSUUDA ILLALLOH). Adapun target tertingginya, adalah kesadaran bahwa tiada wujud hakiki selain Alloh (LAA MAWJUUDA ILLALLOH).

Pada intinya, kepentingan dzikir jahar laailaaha-ilalloh adalah berkait erat dengan UBUDIYAH (men-ta’aluh-kan Alloh) dalam hubungannya secara vertikal, dan (kelak) sampai pada gilirannya (pada dzikir khofiy) akan berkait erat dengan peran KEKHALIFAHAN dalam hubungannya secara horisontal. Dari sini bibit laailaaha-illalloh kemudian akan tumbuh meninggi dalam selongsing ‘batang’ yang disebut ‘sholat’. Dari batang ‘sholat’ akan tumbuh cabang berupa zakat, puasa, haji, dan seterusnya berupa amal-amal shalih (akhlaqul-karimah) dalam segala bentuknya.

Sikap lahir saat dzikir khofiy sebagaimana ang diajarkan waliy Mursyid, adalah antara lain seperti yang telah kami nuqilkan sebelumnya, yaitu:

  • “Katupkan kedua bibirmu, pejamkan kedua matamu, tekuklah lidahmu ke langit-langit (seperti lidah orang yang telah mati), tundukkanlah kepalamu ke arah qalbu (kira-kira dua jari di bawah puting susu sebelah kiri).”
  • “... Tahan nafas. Tariklah nafas dan tahanlah di bawah pusar,”
  • “... Tenangkanlah seluruh tubuhmu ... “
  • dan lain-lain.


Adapun sikap bathin dalam dzikir khofiy Allohu... Alloh adalah seperti yang Abah Anom pernah sampaikan, antara lain:

“... Pasrahkanlah semuanya kepada Alloh, hilangkanlah kata-kata ‘ku’;dari-ku, milik-ku, oleh-ku, karena-ku, dan ‘ku’ ‘ku’ yang lain, kembalikanlah semuanya kepada Alloh sambil berdzikir khofiy dalam hati sekuat-kuatnya terus menerus Allohu... Alloh, Allohu... Alloh, Allohu... Alloh.”

Apa yang kami sampaikan mengenai sikap bathin dalam dzikir khofiy di atas, adalah hanya beberapa saja dari yang Abah Anom berikan. Adapun apa-apa yang merupakan cabang dari sikap bathin (sebagai alat bantu bagi kecepatan perolehan target) yang masih ada pada ilmu Abah Anom yang belum disampaikan kepada kita pastilah amat banyak. Namun begitu menurut pribadi kami, apa yang telah kami sampaikan tersebut adalah sudah merupakan pemberian dari Abah Anom kepada kita mengenai sikap bathin yang terbaik dan yang tercepat menyampaikan kita kepada target dari dzikir khofiy yaitu wushul ilalloh (ma’rifatulloh).

Pelaksanaan dzikir ketika sedang berjamaan dengan sesama ikhwan, hendaknya dilakukan secara kompak sesuai komando sang imam dzikir. Anda bisa download video dzikir thoriqoh di bawah ini. Kenapa perlu kekompakan, bukankah dzikir itu yang dinilai oleh Alloh adalah hatinya? Nah, itu tahu. Jika sesuatu yang kelihatan jelas bisa didengarkan saja sudah tidak bisa kompak dengan sesama ikhwan, lalu bagaimana dalam hal pemikiran, sirr menangkap signale ketuhanan, organisasi, dan yang lainnya yang tidak bisa diinderawi?

Demi itulah, Guru Mursyid selalu menekankan agar ketika dzikir berjamaah hendaknya kompak satu dengan yang lainnya. Caranya kompak, ya ikutin imam dzikirnya. Untuk intonasi dzikirnya bisa Anda (pembaca) perhatikan video di bawah ini. Berikut hanya berupa suara dzikir jahar.




Sumber berita:
https://akurahasianya.blogspot.com/2018/12/tata-cara-dzikir-tarekat-qadiriyah.html


Rahasia dari Segala Rahasia Kehidupan

 Rahasia Kehidupan: Trilogi Tasawuf Ibarat Pohon Menjulang

Dalam kitab Sirr al-Asrar ini, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menjelaskan tentang macam-macam ilmu. Menurut dia, semua ilmu dapat dikelompokkan menjadi empat bagian.

Pertama, ilmu lahiriyah, yaitu imu syariat yang berupa perintah, larangan, dan segala bentuk hukum.

Kedua, ilmu syariat batin atau yang disebut juga ilmu tarekat. Ketiga, yaitu ilmu tarekat batin atau yang disebut juga ilmu makrifat. Sedangkan yang terakhir adalah inti ilmu batin atau yang disebut juga ilmu hakikat.

Menurut Syekh Abdul Qadir, semua macam ilmu itu harus dicapai semua hamba sebagaimana sabda Rasulullah yang diungkapkan dalam buku ini.

“Syariat adalah pohon, tarekat dalah rantingnya, makrifatnya adalah daunnya, hakikat adalah buahnya. Alquran menghimpun semuanya dengan dalil dan isyarat, baik lewat tafsir maupun takwil.”

Menurut Syekh Abdul Qadir, pengarang kitab Tafsir al-Kabir telah menyatakan bahwa jika pintu hati telah dibuka, maka semua pintu batin yang lain pasti akan terbuka. 

Selain itu, seorang hamba juga diperintahkan untuk selalu melawan nafsu di berbagai level, yaitu syariat, tarkeat, makrifat, dan hakikat. Pasalnya, dalam level syariat itu nafsu selalu membisikkan berbagai macam pelanggaran. 

Di level tarekat, nafsu selalu membisikkan berbagai macam pengakuan sebagai bentuk tipu daya, seperti pengakuan nabi atau sebagai wali.

Di level makrifat, nafsu juga selalu membisisikkan syirik tersembunyi, seperti pengakuan diri sebagai Tuhan. Namun, di dalam level hakikat, tutur Syekh Abdul Qadir, setan sama sekali tidak memiliki jalan masuk ke situ sebagaimana halnya nafsu, bahkan malaikat sekalipun.

Maka, pada saat itulah seorang hamba akan selamat dari dua musuh utamanya, yaitu nafsu dan setan, sehingga dia akan menjadi seorang yang ikhlas. 

Sebagaimana difirmankan dalam Alquran: “Iblis menjawab, ‘Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS  Shad (38): 82-83).

Menurut Syekh Abdul Qadir, untuk menjadi seorang ikhlas maka seorang hamba harus bisa mencapai hakikat. Barang siapa yang belum mencapai hakikat maka dia belum menjadi seorang ikhlas, karena sifat-sifat kemanusiannya tidak dapat hilang, kecuali hanya dengan tajali Zat.

SIRR AL-ASRAR Rahasia dari Segala Rahasia Kehidupan

KITAB

Terdapat 24 rahasia kesufian dalam menyelami hakikat kehidupan untuk berjumpa dengan Sang Khalik.Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan, menjelang fajar mereka mohon ampunan Allah memandu kepada cahaya-Nya

Siapa yang Dia kehendaki

Demikian salah satu bait-bait syair yang terdapat dalam kitab Sirr al-Asrar wa Muzhhir al-Anwar fi ma Yahtaju Ilayhi al-Abrar (Rahasia dari Segala Rahasia Kehidupan) karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani, seorang sufi terkemuka.

Kitab ini menjelaskan tentang dasar-dasar ajaran Islam, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, berdasarkan sudut pandang sufistik (tasawuf). Di dalamnya, terdapat 24 bab yang didasarkan pada 24 huruf dalam kalimat syahadat (Asyhadu an laa Ilaaha Illa Allah wa Asyahadu annaa Muhammad Rasulullah) dan 24 jam dalam sehari semalam.

Kitab yang ditulis Syekh Abdul Qadir al-Jailani (ada pula yang menulisnya dengan Al-Jilani) ini dianggap sebagai jembatan yang mengantarkan pada tiga karyanya yang terkenal, yaitu Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq (Bekal para Pencari Kebenaran), Al-Fath al-Rabbani wa al-Faydh al-Rahmani (Menyelami Samudra Hikmah), dan Futuh al-Ghayb (Penyingkapan Kegaiban).

Adapun metode pengajaran dan penyampaian yang digunakannya dalam kitab tersebut adalah metode bayani (penjelasan), yakni dengan menggunakan kata-kata yang tepat, ungkapan yang mudah, seimbang, dan jauh dari keruwetan.

Contohnya, ketika memberikan pengertian tentang iman, ia berkata, ''Kami yakin bahwa keimanan adalah pengucapan dengan lisan, pembenaran dengan hati, dan pelaksanaan dengan anggota badan. Bertambah dengan ketaatan, berkurang dengan kemaksiatan, menguat dengan ilmu, melemah dengan kebodohan, dan timbul karena adanya taufik.''

24 rahasia

Sesuai dengan namanya, yaitu Sirr al-Asrar (Rahasia dari Segala Rahasia Kehidupan), setidaknya terdapat 24 macam rahasia yang diungkapkan Abdul Qadir al-Jailani dalam kitab ini.

Pertama, pembahasan ini dimulai dengan keberadaan manusia yang dilihat dari sudut pandang jiwa dan raga. Secara umum, manusia mempunyai ciri-ciri fisik yang hampir sama. Tapi, dari sisi jiwa, setiap orang berbeda-beda. Karena itu, perlu penjelasan yang lebih khusus, yakni sebuah kaidah tentang jalan menapaki satu tingkatan ke tingkatan lainnya, untuk mencapai alam ilmu, sebagai tingkatan tertinggi.

Ia mendasarkan hal tersebut pada sebuah hadis, ''Ada satu tingkatan yang di dalamnya semua dan segala sesuatu dihimpun, yaitu makrifat ilmu.'' Kemudian, ia memperkuat argumentasinya dengan beberapa hadis lain. ''Tafakur sesaat lebih utama daripada ibadah setahun.'' Atau, ''Sesaat tafakur lebih utama daripada ibadah seribu tahun.''

Kedua, ia mengatakan bahwa jalan pertama menuju kesempurnaan adalah tobat. Seperti disebutkan dalam Alquran, ''Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.'' (QS al-Baqarah [2]: 222).

Lalu, diperkuat dan diperjelas lagi dengan ayat lain. ''Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; Maka itu, kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'' (QS al-Furqan [25]: 70).

Ketiga, tentang zakat dan sedekah. Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengatakan bahwa segala sesuatu yang diberikan sebagai zakat, akan melalui tangan Allah sebelum sampai kepada kaum fakir. Karena itu, tujuan zakat tidak semata-mata untuk membantu kaum fakir, karena Allah Maha Mengetahui semua kebutuhan, termasuk kebutuhan kaum fakir.

Menurut Abdul Qadir, tujuan zakat sejatinya adalah agar niat seorang yang berzakat diterima oleh Allah.

Ia mengutip firman Allah SWT, ''Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan, apa saja yang kamu nafkahkan. Maka, sesungguhnya Allah mengetahuinya.'' (QS Ali Imran [3]: 62).

Keempat, Syekh Abdul Qadir membagi puasa menjadi dua, puasa lahir dan puasa batin. Puasa lahir dibatasi oleh waktu, dengan menjauhi makan, minum, dan hubungan seks, dari fajar hingga tenggelam matahari. Sedangkan puasa batin dijalani selama-lamanya, selama hidup di dunia hingga kehidupan di akhirat, dengan menjaga semua indra dan pikiran dari segala yang diharamkan. Inilah puasa yang sejati.

Ia mengutip hadis, ''Bagi orang yang berpuasa, ada dua kegembiraan. Satu kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan lainnya saat ia melihat Allah (makrifat).''

Syekh Abdul Qadir yang juga dijuluki sebagai 'Penghulu Para Auliya' ini mengupas tentang aspek lahir dan batin dari shalat dan ibadah haji. Memberi panduan zikir, wirid, dan berkhalwat. Menyingkap hakikat kebahagiaan, penderitaan, dan penyucian jiwa. Menganjurkan perang melawan hawa nafsu dan melihat hakikat Ilahi, hingga meraih maqam penyaksian (musyahadah).

Syekh Abdul Qadir al-Jailani telah menggambarkan secara lengkap tentang tasawuf yang memadukan antara ilmu syariat, yang didasarkaan pada Alquran dan sunah melalui penerapan praktis dengan keharusan untuk menghayati hakikat serta manfaat dari diterapkannya syariat.

Jadi, tasawuf yang dirumuskannya jauh dari paham-paham yang mengatakan bahwa setelah seseorang mencapai tingkat hakikat, sudah tidak dibutuhkan lagi syariat.

Dengan kata lain, kajian ini mengajak setiap Mukmin untuk berpindah dari iman yang baru sampai pada batasan rasio dan teori (iman aqli), kepada iman yang sudah sampai pada tahapan penghayatan dan pendalaman (iman dzauq). Dan, dari kesadaran hati akan perbuatan dan sifat-sifat Allah (maqam fana) kepada pemahaman rohani akan zat-Nya (maqam baqa').

Dengan demikian, seorang Mukmin akan meraih hakikat kelembutan, mencapai keikhlasan, dan menghampiri Sang Kekasih Yang Mahasuci. Inilah rahasia dari segala rahasia kehidupan, yang baru diketahui sebagian rahasianya oleh Barat, dengan terbitnya buku The Secret yang fenomenal itu.

Kalau tidak boleh dibilang terpengaruh, spiritualitas di Barat sebenarnya jauh tertinggal dengan spiritualitas di dunia Islam, karena kitab Sirr al-Asrar dikarang jauh sebelum Barat mengungkapnya. 

Rahasia Cakrawala Misykat

Makna 'perjalanan menuju Allah' adalah berpindah dari akal non-syar'i kepada akal syar'i, dari hati yang sakit dan keras kepada hati yang sehat, dari ruh yang lari dari pintu Allah kepada ruh yang mengenal Allah, dan dari jiwa yang kotor kepada jiwa yang suci bergelimang cahaya, seperti yang tergambar dalam Alquran, Surat an-Nur ayat 35-38.

Ayat ini merupakan perumpamaan tahapan-tahapan 'menuju cahaya Allah.' Jasad diumpamakan sebagai Al-Misykat, sebuah lubang di dinding yang tidak tembus. Hati diumpamakan Al-Zujajah, tabung kaca yang berisi pelita besar. Dan, hati yang suci diumpamakan Al-Mishbah, pelita besar yang bercahaya.

Dalam Kitab Sirr al-Asrar, ketika menafsirkan ayat di atas, Syekh Abdul Qadir al-Jailani menyatakan, ''Jika cahaya Allah--yang merupakan cahaya langit dan bumi--menerangi hatimu, ia akan menyalakan lentera hatimu, yang berada dalam kaca yang bening. Dan, berkilaulah bintang Ilahi dalam hatimu. Kilauan itu memancar dari awan makna yang tak berasal dari Timur maupun Barat, menyala dari pohon zaitun, cahaya itu memantul dari pohon itu, sangat jernih dan terang seolah-olah memancarkan cahaya meski tak disentuh api. Ketika itulah lentera hikmah menyala terang. Bagaimana mungkin ia padam jika cahaya Allah menerangi seluruh relungnya?''

Dari pernyataan tersebut, setidaknya ada empat perumpamaan tahap untuk sampai pada cahaya Allah. Pertama, manusia mempunyai dua potensi, jasad dan hati. Lubang di dinding rumah yang tidak tembus ibarat jasad dan tabung kaca ibarat hati. Dan, cahaya keimanan akan masuk ke dalam hati seorang Mukmin.

Kedua, ketetapan bagi seorang Mukmin adalah selalu terikat dengan hukum syara. Pohon zaitun merupakan perumpamaan dari syariat Allah yang tidak miring ke Timur dan tidak pula miring ke Barat. Inilah cahaya Alquran.

Ketiga, syariat yang bermanfaat bagi manusia ibarat pohon yang diberkahi. Syariat Islam yang mengatur semua perkara kehidupan manusia, akan memberikan kepuasan bagi akal, menenangkan hati, sesuai dengan fitrah kemanusiaan dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Di sinilah cahaya iman dan cahaya Alquran menyatu.

Keempat, ketika cahaya Alquran dan cahaya iman berkumpul, niscaya keduanya akan menerangi. Salah satu dari keduanya tidak akan ada jika tidak ada yang lain. Cahaya yang merupakan gambaran dari kebenaran yang memiliki bentuk berlapis-lapis. Ia diperkuat oleh lubang dinding yang tidak tembus, tabung kaca, pelita dan minyak, hingga tidak ada satu pun yang tidak memperkuat cahaya itu.

Jika manusia mengamalkan Alquran, akan bertambahlah cahaya hatinya. Cahaya ini akan senantiasa membekas pada lubang dinding, yakni jasad manusia, hingga sang jasad bisa memberi sinar bagi jalan yang dilaluinya dan orang selain dirinya.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengatakan, ''Semua itu berawal sejak kau membersihkan cermin hati. Cahaya hakikat Ilahi akan menyinarinya jika kau menghendaki dan mencari-Nya, dari-Nya, bersama-Nya.''

Sang Maestro Sufi, Penghulu Para Aulia

Sang maestro sufi ini bernama lengkap Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abu Shalih Musa Janki Dausat bin Abu Abdullah bin Yahya Al-Zahid bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah bin Musa al-Jun bin Abdullah al-Mahadh, yang lebih populer dengan panggilan Syekh Muhyiddin Abdul Qadir al-Jailani. Ia dilahirkan pada tahun 470 H (1077-1078 M) di Jil, daerah di belakang Tabaristan, kini termasuk wilayah Iran.

Ia mendapat julukan Al-Ghawts al-A'zham, manifestasi sifat Allah 'Yang Mahaagung', yang mendengar permohonan dan memberikan pertolongan, dan Al-Qutb al-A'zham, pusat dan ujung embara rohani, sultan aulia, sumber hikmah, perbendaharaan ilmu, teladan iman dan Islam, dan pewaris hakiki kesempurnaan Nabi Muhammad Saw.

Ia belajar kepada beberapa orang ulama, seperti Ali Abul Wafa al-Qayl, Abul Khaththab Mahfuzh, Abul Hasan Muhammad al-Qadhi, dan Abu Sa'ad al-Mubarak ibn Ali al-Muharrami. Selain itu, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani juga menimba ilmu pada ulama-ulama tersebut hingga mampu menguasai 13 bidang ilmu.

Banyak orang yang belajar padanya tentang tafsir, hadis, dan persoalan mazhab. Setiap mengeluarkan fatwa, ia menggunakan kaidah fikih Imam Syafi'i dan Imam Ahmad ibn Hanbal. Ia juga menguasai ilmu perbandingan, ushul fikih, nahwu, dan ilmu qiraat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang terkenal kritis terhadap sufi dan tasawuf, dalam beberapa fatwanya menyanjung dan memuji Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Beliau menyebutkan, karamah-karamah yang dimiliki oleh Syekh Abdul Qadir dinukil secara mutawatir.

Ada banyak buku dan artikel yang dinisbatkan kepadanya, namun yang disepakati sebagai karyanya hanya ada tiga, yaitu:

1. Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq (Bekal Para Pencari Kebenaran). Karya ini banyak terpengaruh--baik tema maupun gaya bahasanya--dengan Ihya 'Ulum ad-Din karya al-Ghazali. Ini terlihat dengan penggabungan fikih, akhlak, dan prinsip suluk.

2. Al-Fath al-Rabbani wa al-Faydh al-Rahmani (Menyelami Samudra Hikmah), kumpulan tausiyah yang pernah disampaikan Syekh dalam majelisnya. Setiap satu pertemuan menjadi satu tema. Semua pertemuan yang dibukukan ada 62 kali pertemuan. Pertemuan pertama pada 3 Syawal 545 H. Pertemuan terakhir pada hari Jumat, awal Rajab 546 H.

3. Futuh al-Ghayb (Penyingkapan Kegaiban), kompilasi dari 78 artikel yang ditulisnya berkaitan dengan suluk, akhlak, dan lain-lain. Tema dan gaya bahasanya sama dengan Al-Fath al-Rabbani.

Mengenal Syekh Abdul Qadir Jailani, Legenda Mistik Sufi Islam

Ia wafat pada Sabtu, 8 Rabi al-Tsani 562 H. Makamnya terletak di Madrasah Bab al-Darajah di Baghdad, telah menjadi tempat ziarah penting bagi kaum Muslimin, khususnya kaum sufi. Sepanjang usianya dihabiskan untuk berbuat baik, mengajar, dan bertausiyah.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani merupakan tokoh sufi yang paling masyhur di Indonesia. Ia adalah pendiri Tarekat Qadiriyah. Terlepas dari pro dan kontra atas kebenaran karamah-nya, cerita-cerita tentangnya sering dibacakan dalam majelis yang dikenal di masyarakat dengan sebutan manaqiban. Peringatan haul waliyullah ini pun selalu dirayakan setiap tahunnya oleh umat Islam di Indonesia. 

Selain berdakwah, semasa hidupnya Jailani juga menghasilkan sejumlah buku, sebagai berikut, seperti dilansir dari situs yang didedikasikan untuk Sang Syekh. 


1. Tafsir Al Jilani

2. al Ghunyah Li Thalibi Thariqil Haq,

3. Futuhul Ghaib.

4. Al-Fath ar-Rabbani

5. Jala' al-Khawathir

6. Sirr al-Asrar

7. Asror Al Asror

8. Malfuzhat

9. Khamsata "Asyara Maktuban

10. Ar Rasael

11. Ad Diwaan

12. Sholawat wal Aurod

13. Yawaqitul Hikam

14. Jalaa al khotir

15. Amrul muhkam

16. Usul as Sabaa

17. Mukhtasar ulumuddin

Melansir biografi Jailani dari Inter Islam, karya yang berjudul 'Futuh al Ghaib' dianggap sebagai salah satu karya sastra Islam terbaik yang pernah ditulis. Buku ini dihargai karena materi dan gayanya serta salah satu nilai edukatif yang besar bagi umat Islam dan non-Muslim. 

Karya ini juga memberi pengaruh besar kepada sejumlah besar orang Kristen dan Yahudi, sehingga mereka menerima iman Islam.


Sumber berita:

https://republika.co.id/berita/56214/sirr-alasrar-rahasia-dari-segala-rahasia-kehidupan

https://www.republika.co.id/berita/pxwnm4320/rahasia-kehidupan-trilogi-tasawuf-ibarat-pohon-menjulang